Ryan Sugiarto
Tiga kejut kita terima dari keadaan hukum dan keadilan negeri ini. Pertama, kasus pemerkaraan ketua non aktif, Bibit S Riyanto dan Chandra M Hamzah, yang di jerat dengan penyalahgunaan wewenang dan pemerasan. Kedua, rekaman hasil sadapan KPk terhadap anggodo yang diperdengarkan di sidang Mahkamah Konstitusi. Ketiga, pengakuan atau kesaksian mantan kapolres Wliiardi WIzar tentang kasus pembunuhan yang menerdakwakan Antasari, mantakn ketua KPK yang menyatakan bahwa antasari adalah target dari operasi kepolisian.
Apa artinya ini? Logika awam saya mengatakan, bahwa kriminalisasi KPK benar-benar ada dan sedang berlangsung. Kriminalisasi ini melibatkan pelaku utama adalah oknum polri. Dan tentu ada kekuatan besar yang berada dibelakang polri. Kenapa? Rangkaian kasus yang terbeber dalam media ini saya kira bentuk dari kekuatan besar yang tengah berusaha melemahkan kekuatan pemberantasan korupsi.
Saya kira terlalu kecil untuk melihat bahwa perseteruan, antara Polisi + kejaksaan Vs KPK, judul terkenalnya Cicak Vs Buaya, karena keirian kewenangan dua lembaga ini. Keirian tentang keberhasilan kerja KPK. Tetapi, bukan tidak mungkin, ada kekuatan besar yang mendesain kondisi semacam ini. Bahwa oknum polri, menjadi bagian utama dari pelemahan pemberantasan korupsi yang ada di tubuh KPK sudah telanjang didepan mata publik.
Lalu bagaimana runtutan kejadianya? Pertama tentu dengan menghantam ketua pimpinan KPK. Oknum polri terlebih dahulu mengahntam Antasari Azhar, ketua KPK, dengan kasus pembunuhan. Kasus ini jauh dari gegap geimpita perhatian rakyat karena memang semula dianggap sebagai urusan atau pidana pribadi. Apalagi dibumbui dengan kisah cinta. Lalu berhasilah Antasari di penjara, dengan status terdakwa. Berkuranglah kekuatan KPK. Sebagaimana kita tahu, paling tidak, Antasari pada masa kejayaannya adalah sosok yang mengerikan bagi para koruptor dan lembaga-lembaga negara lainnya.
Selanjutnya, empat orang tentu masih terlalu kuat. Lalu di buatlah cara bagaimana menjerat langsung pimpinan lainnya. Bibit S. Riyatnto dan candra M hamzah, mendapat ilirannya, dijerat dengan kasus awal penyalahgunaan wewenangan. Inilah yang kemudian membuat gembar rasa keadilan publik kita. Keduanya di tersangkakan oleh polisi karena cara kerja mereka yang sudah dilakukan semenjak KPK ada, menyalahi wewenang. Polisi terkesan mencari-cari bukti dan mengada-adakannya, agar keduanya bisa di pidanakan.
Perlu diingat bahwa candra dan bibit, sedang menangani kasus century yang melibatkan inti kekuasaan negara, termasuk oknum yang bercokol polri. Karena itu mereka berdua perlu disingkirkan dari kedudukannya. Yakni dengan jalan, minimal, menjadikan keduanya sebagai terdakwa. KPK pun dianggap limbung oleh bagian politik hingga presiden merasa perlu mengeluarkan perpu tentang pengangkatan pejabat sementara.
Namun keduanya tidak menerima dengan status tersangaka, karena mereka bekerja sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Maka mereka mengajukan uji materi UU KPK 30/2002 bahwa pasal tersebut bisa dijatuhkan pekada pimpinan KPK, siapapun, oleh sebuah rekayasa. MK meminta bukti . Lalu diperdengarkalah rekaman penyadapan KPK terhadap anggodo.
Pemutaran rekaman inilah kejut berikutnya. Seluruh rakyat indonesai dibuat tercengang, prihatin , dan mengutuk pejabat-pejabta busuk, sekaligus malu menjadi warga bangsa yang ditipu oleh pejabatnya sendiri. Rekaman menggambarkan dengan jelas mafia peradilan yang selama ini hanya selentingan semata. semakin menyayat public bahwa polisi tidak menindaklajuti rekaman tersebut. Bahkan membela diri dari keinginan rakyat, dengan alasan menjalankan hokum mormatifnya. Dalam rekaman lagi-lagi, ada oknum kepolisian dan kejaksaan yang tersangkut dalam mafia hukum, merekayasa. Tentu initamparankeras bagi wajah penegak hukun negeri ini. Meskipun begitu mereka tidak malu untuk tetap mendekap jabatannya. Apalagi anggota komisi III memihak apa yang dlakukan Polisi.
Inilah yang semakin membuat public perlu mengutarakan kegelisahannya ke jalan-jalan. Mengutarakan kekecewaannya dalam media onlie, membuat parlemen online. Menggunakan parlemen jalanan dan parlemen online, karena parlemen yang dipilih atas nama rakyat, yang menikmati dana rakyat, mbalelo dari suara dan keinginan rakyatnya.
Lembaga Rekayasa
Kita menyaksikan, dalam panggung hukum negeri ini, betapa mudah sebuah kejadian bisa direkayasa. Kasus Bibit dan candra, selama ini adalah rekayasa yang dilakukan oleh oknum polri untuk melemmahkan KPK. Reaman Anggodo yang di putar di MK itu adalah bukti nyata bagaimana oknum penegak hokum berkolaborasi dengan penguasaha, koruptor. Lalu kita juga disuguhi oleh pengakuan Williardi Wizar, yang menyatakan bahwa kasus Antasari adalah hasil dari pengkondisian petinggi polri, pimpinan polri.
Kita patut prihatin sedalam-dalamnya dengan adanya petunjuk perekayasaan terhadap pimpinan-pimpinan KPK ini. Dan oknum-oknum polisi itu telah menggunakan lembaga keloplisian yang terhormat ini menjadi lembaga rekayasa kasus. Bahkan terhadap lembaga yang ditugasi memberantas korupsi.
Rekaman di MK dan kesaksian williardi di pengadilan, adalah gambaran bagaimana kode etik kepolisian sudah diinjak-injak oleh aparaturnya sendiri. Menekan, membujuk, dan mengiming-imingi keringan adala modus yang dilakukan, selain tentu saja uang.
Jika lembaga penegak hokum seperti ini, perteterusnya lalu kemana warga negara mengadu tentang hukum dan keadilan, jika yang mengisi lembaga penegak hukum dan keadilan justru banyak oknum yang bisa membolak-balikkan rasa keadilan, dan aturanya sendiri. Yang memperdagangkan hokum dilembaganya. Jawabanya saya kira hanya satu, lakukan reformasi total.
Sabtu, 28 November 2009
Rabu, 28 Oktober 2009
Kearifan dari tepi Stasiun Pasar Senen
Ryan Sugiarto
Inilah kearifan dari seorang lelaki tua, pejualan vocer grosiran, di tepi stasiun Pasar Senen. “bangsa ini tidak maju-maju, karena pemimpinnya tak punya visi kedepan,” begitulah kalimat itu terluncur dai lelaki 70an tahun ini, sembari menyedot gudang garam dalam-dalam. Menurutnya, Negara ini tidak mempunyai pemimpin yang bisa mengatur sebuah Negara.
Hal yang sangat dekat dengan saya, misalnnya, kereta yang saban hari saya haus bergaul dengannya, selalu mengalami keterlambatan. Seperti ii sering terjadi, katannya lebih lanjut. Ini salah stu bukti bahwa kitapun tak kusa menguasai ilmu merawat kereta, maintenance kereta. Entah apa yang dikoar-korarkan mereka yang nyaleg itu. Seoalah merea punya kemapuan menyelesaikan permasalahan kita seperti ini.
“dan siapapun presidennya nanti tak akan mampu menyelesaikan konndisi kebangsan seperti ini. Kita ini bangsa yang gemar menyombongkan diri,” katannya.
“Pernah dengar guyonan satir seperti ini?
“Sebuah perlombaan penembak jitu sesame tentara
“Tentara asal amerika meninta sebuah semangka untuk menjai sasaran tembaknnya. Diletakkan semangka itu diatas ubun-ubuh salah salah satu tentara lainnya. Dibidiknnya,” kata lelaki tua ini sembara mengarahkan tangan kakanya, dengan jari-jari menyerupai huurf L berdiri, “DOOR…tembuslah semangak itu, tak meleset sedikitpun,” katannya.
Tentara Amerika ini lalu berteriak “I am a Rambo.”
Tentara kedua, berkebangsaan Inggris. Lelaki tua mengulangi gerak tangan dan jarinnya, kali ini diikuti dengan memicingkan mata kanannya. Lanjutnya, “saya bisa melakukannya bahkan pada buah yang lebih kecil. Dipilhlah oleh tentara itu apel, dan diletakkan di kepa tentara yang tadi.”
“Door..!!”
“Lihat,” kata bapak tua ini sembara berkcak pinggang disela duduknya diatas sandal jepitnnya yang lusuh.
“I am a james Bond,” begitu kata tentara inggris, yang ditirrukan sang bapak.
Dan, unjuklah seorang tentara dari Indonesia.
“hei..jangan sombong dulu, saya akan pilih buah yang lebih kecil dari kalian,” kata sang tentara, “duku”
Diletakkanlah sebutir duku diatas kepala tentara sukarelawan tadi.
“Dooor…!!!”
“See…I am Sorry” begitu pak tua ini terkekeh menirukan ucapan tentara penembak dari Indonesia yang telah berhasil menewaskan tentara sukarelawan.
“Betapa kita ini begitu menyombong akan ketidak mampuan kita,” tukasnnya.
“Sepertinya kita patut meminjam orang luar untuk menjadi presiden kita. Seperti Fujimori yang berhasil mengelola jepang. “ lanjut laki-laki tua lulusan STM ini sembari menghitung lagi jumlah voucernya.
Dalam sudut-sudut seperti inilah tersimpan kearifan dan kkecerdasan, dari pemikir udik. Keluasan pikiran dan kesederhanaa pikir. Pikiran sebagai sebuah bangsa.
[010309]
Inilah kearifan dari seorang lelaki tua, pejualan vocer grosiran, di tepi stasiun Pasar Senen. “bangsa ini tidak maju-maju, karena pemimpinnya tak punya visi kedepan,” begitulah kalimat itu terluncur dai lelaki 70an tahun ini, sembari menyedot gudang garam dalam-dalam. Menurutnya, Negara ini tidak mempunyai pemimpin yang bisa mengatur sebuah Negara.
Hal yang sangat dekat dengan saya, misalnnya, kereta yang saban hari saya haus bergaul dengannya, selalu mengalami keterlambatan. Seperti ii sering terjadi, katannya lebih lanjut. Ini salah stu bukti bahwa kitapun tak kusa menguasai ilmu merawat kereta, maintenance kereta. Entah apa yang dikoar-korarkan mereka yang nyaleg itu. Seoalah merea punya kemapuan menyelesaikan permasalahan kita seperti ini.
“dan siapapun presidennya nanti tak akan mampu menyelesaikan konndisi kebangsan seperti ini. Kita ini bangsa yang gemar menyombongkan diri,” katannya.
“Pernah dengar guyonan satir seperti ini?
“Sebuah perlombaan penembak jitu sesame tentara
“Tentara asal amerika meninta sebuah semangka untuk menjai sasaran tembaknnya. Diletakkan semangka itu diatas ubun-ubuh salah salah satu tentara lainnya. Dibidiknnya,” kata lelaki tua ini sembara mengarahkan tangan kakanya, dengan jari-jari menyerupai huurf L berdiri, “DOOR…tembuslah semangak itu, tak meleset sedikitpun,” katannya.
Tentara Amerika ini lalu berteriak “I am a Rambo.”
Tentara kedua, berkebangsaan Inggris. Lelaki tua mengulangi gerak tangan dan jarinnya, kali ini diikuti dengan memicingkan mata kanannya. Lanjutnya, “saya bisa melakukannya bahkan pada buah yang lebih kecil. Dipilhlah oleh tentara itu apel, dan diletakkan di kepa tentara yang tadi.”
“Door..!!”
“Lihat,” kata bapak tua ini sembara berkcak pinggang disela duduknya diatas sandal jepitnnya yang lusuh.
“I am a james Bond,” begitu kata tentara inggris, yang ditirrukan sang bapak.
Dan, unjuklah seorang tentara dari Indonesia.
“hei..jangan sombong dulu, saya akan pilih buah yang lebih kecil dari kalian,” kata sang tentara, “duku”
Diletakkanlah sebutir duku diatas kepala tentara sukarelawan tadi.
“Dooor…!!!”
“See…I am Sorry” begitu pak tua ini terkekeh menirukan ucapan tentara penembak dari Indonesia yang telah berhasil menewaskan tentara sukarelawan.
“Betapa kita ini begitu menyombong akan ketidak mampuan kita,” tukasnnya.
“Sepertinya kita patut meminjam orang luar untuk menjadi presiden kita. Seperti Fujimori yang berhasil mengelola jepang. “ lanjut laki-laki tua lulusan STM ini sembari menghitung lagi jumlah voucernya.
Dalam sudut-sudut seperti inilah tersimpan kearifan dan kkecerdasan, dari pemikir udik. Keluasan pikiran dan kesederhanaa pikir. Pikiran sebagai sebuah bangsa.
[010309]
Senin, 13 Juli 2009
Wakil Politik
Ryan Sugiarto
Tidak ada, selain waktu menginginkan suara gambar para politisi dan partai dengan sengaja menempel pada gerobak sampah para pemungut. Tak ada selain maasa kampannya, wajah paras orang-orang kaya dan gede menempel pada pagar bamboo yang hamper roboh di sudut-sudut desa. Juga, tak ada selain waktu menjelang pemilu, manusia-manusia yang ingin menjadi wakil menyambangi barak-brak kumuh, sudut-sudut rawan penyakit.
Sekali lagi itu semuanya hanya pada masa ketika suara satu orang saja dibutuhkan oleh mereka yang ingin menjadi wakit. Bukan menjadi orang mewakilkan. Bukankah orang yang mewakilkan seharusnnya menjadi nomor satu? Dan wakil menjadi orang nomor dua setelah yang mewakilkna? Tetapi memang menjadi wakil dalam bidang politik ini sebih terhormat, dimata mereka, ketimbang orang nomor satu itu sendiri
Tapi memang begitulah cara kerja politik. Yang menjadi wakil malah lebih berkuasidari yang mewakilkan. Lebih enak dari yang member perwakilan, menjadi lebih mentereng dari yang sebenarnnya tak minta diwakili. Tapi toh wakil dalam politik lebih segela-galannya dari pada rakyat sendiri.
Nah, setelah mereka benar-benar dipilih oleh rakyat untuk mewakilinnya, sangat kecil kemungkinan mereka mengerti tentang apa yang seharusnnya diwakilkan. Siapa yang mewakilkannya, dan untuk apa sesungguhnya mereka menjadi wakil
Lalu, mereka tak akan sudi mejenguk para pemungut sampah yang dahulu digerobannya wajah penccari posisi wakil ini menempel dan berkibar. Mereka tak akan menyambangi, sudut-sudut dimana bendera dan paras wajah menempel dip agar-pagar bambudi sudut desa
[270109]
Tidak ada, selain waktu menginginkan suara gambar para politisi dan partai dengan sengaja menempel pada gerobak sampah para pemungut. Tak ada selain maasa kampannya, wajah paras orang-orang kaya dan gede menempel pada pagar bamboo yang hamper roboh di sudut-sudut desa. Juga, tak ada selain waktu menjelang pemilu, manusia-manusia yang ingin menjadi wakil menyambangi barak-brak kumuh, sudut-sudut rawan penyakit.
Sekali lagi itu semuanya hanya pada masa ketika suara satu orang saja dibutuhkan oleh mereka yang ingin menjadi wakit. Bukan menjadi orang mewakilkan. Bukankah orang yang mewakilkan seharusnnya menjadi nomor satu? Dan wakil menjadi orang nomor dua setelah yang mewakilkna? Tetapi memang menjadi wakil dalam bidang politik ini sebih terhormat, dimata mereka, ketimbang orang nomor satu itu sendiri
Tapi memang begitulah cara kerja politik. Yang menjadi wakil malah lebih berkuasidari yang mewakilkan. Lebih enak dari yang member perwakilan, menjadi lebih mentereng dari yang sebenarnnya tak minta diwakili. Tapi toh wakil dalam politik lebih segela-galannya dari pada rakyat sendiri.
Nah, setelah mereka benar-benar dipilih oleh rakyat untuk mewakilinnya, sangat kecil kemungkinan mereka mengerti tentang apa yang seharusnnya diwakilkan. Siapa yang mewakilkannya, dan untuk apa sesungguhnya mereka menjadi wakil
Lalu, mereka tak akan sudi mejenguk para pemungut sampah yang dahulu digerobannya wajah penccari posisi wakil ini menempel dan berkibar. Mereka tak akan menyambangi, sudut-sudut dimana bendera dan paras wajah menempel dip agar-pagar bambudi sudut desa
[270109]
bahasa dan kekuasaan
Ryan Sugiarto
setelah sekian banyak bahasa ibu sayup-sayup terdengar dan kemudian tenggelam untuk hilang, muncul bahasa yang berkuasa. ia dinamakan dengan bahasa internasional, dimana semua oang yang berkeinginan kemana-mana tanpa kendala, ia harus menguasainya.
bahasa yang berkuasa itulah yang dinamakan sebagai bahasa dunia. dan dewasa. ada beberapa bahsa dunia yang mulai menunjukkan kuasannya. bahasa Inggris (inggris, amerika, singapur), perancis, dan kemudian bahasa cina. bahasa inilah yang kian hari penuturnya kian banyak.
kenapa bahasa berkuasa? karena bahasa sudah menempatkan diri pada bagian yang menentukan apa dan bagaimana penuturnya bisa diterima lebih luas. yang berbahasa inggris fasih akan lebih mudah bergaul dengan dunia di belahan lain, dalam aspek apapun. termasuk Cina, yang mulai menjadi bahasa bisnis,oleh karena perekonomian cina yang tumbuh peast dan mulai merangsek ke berbagai penjuru dunia. para penutur bahasa di luar ketiga bahasa itu kemudain berlomba-lomba menguasainya untuk mendekatkan diri dengan pemilik imperium bisnis yang menuturkan basahasa tesebut.
dalam pergaulan, yang menguasai bahasa internasional ini yang mendpat kesempatan untuk apa yang diinginkan. tidak di dunia bisns, dunia pariwisata, atau pun dunia akademik, semuanya menengadahkan wajahnya, mengarahkan wajahnya menuju kekuasaan bahasa ini.
perkembangan ini didukung oleh penguasa negra yang membekali waganya saja dengan bahasa internasional, tetapi mengabaikan bahasa lokal. negara melupakan dan menutup mata bahwa ada sebagian besar bahsa ibu di bagian negerannya mengalami kepunahan penuturnya. dan ia tak membuat kebijaka apapau tentang kondisi bahasa yang seperti ini.
maka lengkaplah sudah yang bernama kekuasaan itu. dari sisi manapun. semunya begerak kearah pusat. sementara yang peri-peri kembang kempis memakali delima. hayut dan atau mempertahankan.
seorang tua berkata: bukankan akan lebih baik jika keduannya kita rengkuhi. menguasai bahsa yang berkuasa atas dunia tiu, sembari mengayoni, nguri-uri bahasa ibu kita. membincangkahnya dengan anak cucu untuk nguri-uri bahasa itu.
keduannya bisa dilakukan dengan kegembiraan dan kemanfaatan masing-masing.semoga.
[270609]
setelah sekian banyak bahasa ibu sayup-sayup terdengar dan kemudian tenggelam untuk hilang, muncul bahasa yang berkuasa. ia dinamakan dengan bahasa internasional, dimana semua oang yang berkeinginan kemana-mana tanpa kendala, ia harus menguasainya.
bahasa yang berkuasa itulah yang dinamakan sebagai bahasa dunia. dan dewasa. ada beberapa bahsa dunia yang mulai menunjukkan kuasannya. bahasa Inggris (inggris, amerika, singapur), perancis, dan kemudian bahasa cina. bahasa inilah yang kian hari penuturnya kian banyak.
kenapa bahasa berkuasa? karena bahasa sudah menempatkan diri pada bagian yang menentukan apa dan bagaimana penuturnya bisa diterima lebih luas. yang berbahasa inggris fasih akan lebih mudah bergaul dengan dunia di belahan lain, dalam aspek apapun. termasuk Cina, yang mulai menjadi bahasa bisnis,oleh karena perekonomian cina yang tumbuh peast dan mulai merangsek ke berbagai penjuru dunia. para penutur bahasa di luar ketiga bahasa itu kemudain berlomba-lomba menguasainya untuk mendekatkan diri dengan pemilik imperium bisnis yang menuturkan basahasa tesebut.
dalam pergaulan, yang menguasai bahasa internasional ini yang mendpat kesempatan untuk apa yang diinginkan. tidak di dunia bisns, dunia pariwisata, atau pun dunia akademik, semuanya menengadahkan wajahnya, mengarahkan wajahnya menuju kekuasaan bahasa ini.
perkembangan ini didukung oleh penguasa negra yang membekali waganya saja dengan bahasa internasional, tetapi mengabaikan bahasa lokal. negara melupakan dan menutup mata bahwa ada sebagian besar bahsa ibu di bagian negerannya mengalami kepunahan penuturnya. dan ia tak membuat kebijaka apapau tentang kondisi bahasa yang seperti ini.
maka lengkaplah sudah yang bernama kekuasaan itu. dari sisi manapun. semunya begerak kearah pusat. sementara yang peri-peri kembang kempis memakali delima. hayut dan atau mempertahankan.
seorang tua berkata: bukankan akan lebih baik jika keduannya kita rengkuhi. menguasai bahsa yang berkuasa atas dunia tiu, sembari mengayoni, nguri-uri bahasa ibu kita. membincangkahnya dengan anak cucu untuk nguri-uri bahasa itu.
keduannya bisa dilakukan dengan kegembiraan dan kemanfaatan masing-masing.semoga.
[270609]
Semangat Kehidupan
Ryan Sugiarto
Pernahkan kita bertanya kenapa setiap merayakan ulang tahun, manusia modern mengunakan simbol meniup lilin? Apa arti semua itu bagi sebuah perayaan ulang tahun? Atau apa makna petanda itu? Apa makna simbolisasi lilin yang menyala itu? Atau apa maksa perilaku meniup lilin itu bagi sebuah peringatan?
Bukankah lilin berarpi itu adalah tanda dari sebuah kehiduoan? Api adalah cahaya, dan ia tanda dalam sebuah kehidupan yang dimulai. Pada alam ini. Setiap orok bayi yang baru lahir merasakan adannya dunia yang terang, meski dengan suasa baru, ia kini memempati dunia terang. Salah satunnya ditandai dengan matahari, bergerak kepada api, dan lokomotif lampu hingga sekarang ini.
Seoarang teman dulu pernah mencari-cari sebatang korek api untuk menyalakan rokonya. Ia tidak menemukannya dan berkata “korek api saja kalian tak punya, bagaimana menerangi dunia. Mencerahkan manusia?” barangkali guyonan teman itu ada benarnya juga. Kira-kira begitu simbol api ini dari sudut pandang sebuah kearifan.
Lalu kenapa dalam perayaan ualangtahun tadi, kita mematikan lilin yang berapi ini? Apakah tidak sama artinnya dengan mematikan semangat kehidupan? Meredam kehidupan yang akan segra dilanjutkan lagi setelah detik-detik perayaan berlangsung. “atau apa yang akan dipadamkan dengan simbol api ini? Kita perlu cari tahu, minimal kita punya dasar dari setiap perayaan dengan simbol itu.
[050309]
Pernahkan kita bertanya kenapa setiap merayakan ulang tahun, manusia modern mengunakan simbol meniup lilin? Apa arti semua itu bagi sebuah perayaan ulang tahun? Atau apa makna petanda itu? Apa makna simbolisasi lilin yang menyala itu? Atau apa maksa perilaku meniup lilin itu bagi sebuah peringatan?
Bukankah lilin berarpi itu adalah tanda dari sebuah kehiduoan? Api adalah cahaya, dan ia tanda dalam sebuah kehidupan yang dimulai. Pada alam ini. Setiap orok bayi yang baru lahir merasakan adannya dunia yang terang, meski dengan suasa baru, ia kini memempati dunia terang. Salah satunnya ditandai dengan matahari, bergerak kepada api, dan lokomotif lampu hingga sekarang ini.
Seoarang teman dulu pernah mencari-cari sebatang korek api untuk menyalakan rokonya. Ia tidak menemukannya dan berkata “korek api saja kalian tak punya, bagaimana menerangi dunia. Mencerahkan manusia?” barangkali guyonan teman itu ada benarnya juga. Kira-kira begitu simbol api ini dari sudut pandang sebuah kearifan.
Lalu kenapa dalam perayaan ualangtahun tadi, kita mematikan lilin yang berapi ini? Apakah tidak sama artinnya dengan mematikan semangat kehidupan? Meredam kehidupan yang akan segra dilanjutkan lagi setelah detik-detik perayaan berlangsung. “atau apa yang akan dipadamkan dengan simbol api ini? Kita perlu cari tahu, minimal kita punya dasar dari setiap perayaan dengan simbol itu.
[050309]
Langgan:
Entri (Atom)

