Sabtu, 18 Oktober 2008

Tentang kesendirian

Ryan Sugiarto


Seorang eman mengingatkankan pada kesendirian. Melalui smsnya dia menulisakan, diambilnya dari archbishob,

Dalam sepi sendiri aku tinggal/ tak tampak wajah manusia
Sebab itu kita berdua mesti saling saying/
Duhai pohon ceri/tiada karibku kecuali kamu//

Betigulah kita, dikala memasuki kenedirian. Bercumbu dengan kesendirian. Mungkin hamper sejamak dengan kesepian yang akut. Tapi idak. Ia adalah kala dimana tak seorangpun mmeraih diri. Tak seorangpun mampu berbincang tentang profane-profan hidup.

Kesendirian adalah kekuatan besar untuk mengingat yang lalu. Mengingat yang tak pernah tersimpan sekalipun dalam jangka pendek pengingat kita. Semuannya tampak seperti laying yang digantikan dengan cepat. Membentuk sebentuk frame yang membangun cerita. Kesendirian, kalau begitu, adalah jalan mengingat yang maha dalam. Yang paling tidak ingin kita ingat sekalipun. Karena ia adalah menuntut keintiman yang klimaks.

Namun bisa jadi ia adalah dunia bagi keramaian yang lain. Dunia dimana kala menjadi sangat pendek untuk bertegur sapa dengan benda-benda. Bukan benda, tetapi yang lain. Ya, bertegur sapa dengan yang lain. Tak hanya dengan sesame. Juga dengan yang tidak sama. Kesendirian telah menjemput. Atau mendatangi keramaian yang tak tersedia dalam keramaian badaniah yang menghancurkan.

O, kesendirian adalah obat. Bagi jiwa-jiwa yang letih bertarung dengan profannya dunia. Dalam kesendirian, aku menemukan kekuatan. Yang bisa ku pendar-pendar dalam cahaya dan kegelapan berpikir. []

[161008]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar