Jumat, 10 Oktober 2008

Mudik

Ryan Sugiarto



Kita ini memang kadang menjadi orang-orang yang bebal. Bayangkan, kita tidak pernah belajar dari tahun-tahun sebelumnya tentang transportsai mudik. Tepatnya bukan kita mungkin. Tapi yang mengurusi negara ini. Kritik-demi kritik selalu mengalir dati tiap-tiap tahun acara mudik. Toh, tak ada perubahan yang berarti.



Orang mengantri tiket kerati masih berjumbel, hingga berela diri bermalam-malam distatiun kereta? Kemacetan masih menyertai setiap mudik? Kecelakaan masih menjadi warna di setiap mudik? Lalu apa yang diperbuat dari tahun-ketahun oleh pengurus negara ini kalau demikian?



Dua belas bulan apakah tidak cukup untuk berbenah di tiap tahunnya, agar mudik menjadi nyaman bagi mereka yang melakukannya. Mungkin juga jarang kita belajar teori antisipasi jauh hari. Kecenderungan spontanitas yang luar biasa besar.

Kita, mengerti mudik adalah gerakan budaya yang mendarah dan mendaging dalam masyarakt kita. Tapi tak pernah ada strategi pelayanan kebudayaan yang pas untuk gerakan budaya ini.



Jika demikian, lalu apa bedannya adannya negara dan tak bernegara?

[101008]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar